ANEMIA KARENA KEKURANGAN VITAMIN B12

ANEMIA KARENA KEKURANGAN VITAMIN B12

KARYA ILMIAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas

Mahasiswa Program Studi S-1 PGSD

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

JAELANI

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA (UHAMKA)

JAKARTA

2011

 

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan nikmat kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mahasiswa program studi S-1 PGSD. Adapun judul karya ilmiah ini adalah “Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12”.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan, dan dukungan kepada penulis dalam menyusun makalah ini. Penulis juga menyadari adanya kekurangan dalam menyusun laporan ini, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca.

Bogor,         Mei 2011

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR …………….………………………………….      i

DAFTAR ISI ………………………………………………………….     ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………..     1

1.1  Latar Belakang ………………………………………………     1

1.2  Tujuan ………………………………………………………     3

1.2.1  Tujuan Umum ………………………………………..     3

1.2.2  Tujuan Khusus ……………………………………….     3

BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………     4

2.1 Vitamin B12 ………………………………………………….    4

2.1.1  Definisi Vitamin B12 ………………………………….     4

2.1.2  Sifat Vitamin B12 ………………………………………    6

2.1.3  Fungsi Vitamin B12 …………………………………. ..    6

2.2  Anemia ………………………………………………………       7

2.2.1  Pengertian Anemia …………………………………..      7

2.2.2  Faktor Penyebab Anemia ………………………. …..      9

2.2.3 Anemia sebagai akibat kekurangan Vitamin B12 ……       10

 

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………       15

3.1    Kesimpulan …………………………………………. . . .       15

3.2    Saran …………………………………………………….       15

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………        16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Anemia merupakan salah satu penyakit yang sering diderita masyarakat, baik anak-anak, remaja usia subur, ibu hamil, atau orang tua yang pada dasarnya anemia merupakan masalah rasional dan berpengaruh sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Penyebabnya sangat beragam, dari yang karena pendarahan, kekurangan zat besi, asam folat, vitamin B12, sampai kelainan hemolitik. Anemia dapat diketahui dengan pemeriksaan fisik maupun dengan pemeriksaan laboratorium. Secara fisik tampak pucat, lemah dan secara laboratorik didapatkan penurunan kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah dari harga normal.

Pada tahun 1920-an penyakit anemia pernisiosa (anemia karena kekurangan vitamin B12) merupakan suatu penyakit yang fatal. Kemudian datanglah pengumuman yang dramatis dari Minot dan Murphy bahwa konsumsi hati dalam jumlah yang banyak (kira-kira ½ kg per hari) dapat mencegah dan mengobati anemia.

Kemudian timbullah suatu hipotesis yang disusun oleh Castel, bahwa sesungguhnya di dalam hati terdapat suatu senyawa yang ia namakan sebagai faktor ekstrinsik yang penyerapannya ke dalam tubuh memerlukan sesuatu yang terdapat dalam saluran pencernaan yang ia sebut suatu faktor instrinsik.

Pasien yang menderita anemia pernisiosa tidak memiliki faktor intrinsik di dalam saluran pencernaannya, tetapi dengan mengkonsumsi hati dalam jumlah yang besar, beberapa faktor ekstrinsik dapat masuk terserap ke dalam tubuh tubuh melalui proses difusi sederhana. Anemia Pernisiosa dapat dipicu oleh kelangkaan pangan disalah satu makanan yang memiliki vitamin B12, atau lainnya dapat menyebabkan kurangnya faktor intrinsik dalam perut. Tanpa faktor yang intrinsik, tubuh kita tidak dapat menyerap vitamin B12 dari makanan yang kita makan, maka dari itu kita membutuhkan vitamin B12.

 

1.2   Tujuan

1.2.1        Tujuan Umum

Sebagai salah satu tugas Mata Kuliah Kimia Anorganik Lanjut.

1.2.2                                Tujuan Khusus

Untuk memahami dan mempelajari akibat kekurangan vitamin B12 terhadap penyakit anemia.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Vitamin B12

2.1.1 Definisi Vitamin B12

Vitamin B12 adalah suatu vitamin yang sangat kompleks molekulnya, yang mengandung sebuah atom kobal yang terikat mirip dengan besi terikat dalam hemoglobin atau magnesium dalam klorofil. Sumber yang mengandung vitamin B12 yaitu bisa ditemukan pada daging, ikan, telur, dan susu. Orang yang hanya makan sayuran (vegetarian) dapat melindungi diri sendiri melawan defisiensi (kekurangan) dengan menambah konsumsi susu, keju dan telur. Hal ini berarti sekitar satu cangkir susu atau satu butir telur untuk satu harinya.

Untuk seorang vegetarian yang tidak memakan semua produk dari hewan dapat memperoleh sumber vitamin B12 dari susu kedelai atau ragi yang sudah ditumbuhkan dalam lingkungan yang kaya akan vitamin B12. Sumber lainnya adalah miso (produk fermentasi kedelai, semacam tauco) dan tempe (terutama yang dibuat secara tradisional). Pada tempe buatan pabrik tidak ditemukan kobalamin. Bagi kaum vegetarian yang akan meningkatkan jumlah vitamin B12, dapat makan sereal ataupun susu kedelai yang diperkaya dengan vitamin dan mineral.

Vitamin B12 terjadi dalam beberapa bentuk dan dikenal sebagai sianokobalamina yang merupakan salah satu bentuk yang paling aktif. Sianokobalamina larut dalam air, tahan terhadap panas, inaktif oleh cahaya, asam keras atau larutan alkali. Hanya sedikit yang hilang oleh cara pemasakan normal. Kini vitamin B12 dapat disintesis dan diproduksi dengan murah dari hasil samping reaksi fermentasi yang diperlukan dalam produksi antibiotik seperti penisilin dan streptomisin.

Vitamin B12 (kobalamin) mempunyai struktur cincin yang kompleks (cincin corrin) dan serupa dengan cincin porfirin, yang pada cincin ini ditambahkan ion kobal di bagian tengahnya yang disintesis secara eksklusif oleh mikroorganisme. Dalam sumsum tulang koenzim vitamin B12 sangat diperlukan untuk sintesis DNA. Bila DNA tidak diproduksi, erothroblast tidak membelah diri tetapi membesar menjadi megablast yang kemudian masuk ke dalam sirkulasi darah.

Kekurangan Vitamin ini dapat terjadi akibat :

1.  Kurangnya asupan vitamin B12 dari makanan.

2.   Kurangnya intrinsik faktor, yaitu protein yang membantu penyerapan vitamin B12 di lambung. Faktor ini merupakan penyebab terserang anemia pernisiosa.

3.  Gangguan di usus seperti penyakit Crhon dan infeksi usus.

 

2.1.2 Sifat Vitamin B12

Vitamin ini bersifat larut dalam air, dan dapat disintetis oleh bakteri dalam usus. Vitamin B12 ini berbeda dengan vitamin larut air lainnya tidak cepat dikeluarkan dalam urin, tetapi dikumpulkan dan disimpan dalam hati, ginjal dan beberapa jaringan tubuh.

Kekurangan vitamin B12 tidak saja terjadi karena asupannya yang kurang. Asupan vitamin lain berlebihan pun dapat mengakibatkan defisiensi vitamin B12. Misalnya, karena berlebihan mengkonsumsi vitamin C.

 

2.1.3 Fungsi Vitamin B12

Fungsi vitamin B12 adalah sebagai berikut :

1.   Membantu proses metabolisme asam amino metionin serta   pembentukan sel darah merah dalam tubuh.

2.  Penjaga nafsu makan dan mencegah terjadinya anemia (kurang darah) dengan membentuk sel darah merah.

3.  Pendonor metil dan bekerja sebagai asam folat untuk sintesa  DNA dan sel darah merah serta mencegah kerusakan system saraf dengan membantu pembentukan myelin pada urat saraf.

4.  Berperan penting pada saat pembelahan sel yang berlangsung dengan cepat.

5.   Berperan dalam aktifitas dan metabolisme sel-sel tulang.

6.   Berperan dalam menjaga agar sel-sel berfungsi normal terutama sel-sel saluran pencernaan, sistem urat syaraf, dan sumsum tulang.

 

2.2 Anemia

2.2.1 Pengertian Anemia

Anemia adalah suatu kondisi tubuh kekurangan kandungan Hemoglobin (sel darah merah) dalam darah. Hemoglobin adalah pigmen yang membuat sel darah berwarna merah. Hemoglobin ini bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke otak dan ke seluruh organ serta jaringan tubuh. Seperti kita ketahui bersama, oksigen merupakan bagian terpenting dari metabolisme tubuh untuk menghasilkan energi.

Hemoglobin juga berfungsi membawa karbondioksida hasil metabolisme dari jaringan tubuh ke paru-paru untuk selanjutnya dikeluarkan saat bernafas. Saat kadar hemoglobin rendah maka jumlah sel darah merah pun akan rendah akibatnya transportasi oksigen akan terganggu dan jaringan tubuh orang yang anemia akan mengalami kekurangan oksigen guna menghasilkan energi. Berdasarkan standar resmi WHO, seseorang dikatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobinnya kurang dari 13 gram/dl untuk pria dan kurang dari  12 gram/dl untuk wanita.

Anemia dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.  Anemia Ringan

Anemia disebut ringan jika kandungan Hb berada diantara 10-12 gram/dl. Gejalanya berupa badan sering merasa lemah, cepat lelah, letih, kurang energi, nafsu makan berkurang, gampang mengantuk dan mata berkunang-kunang bila bangkit berdiri dari duduk.

2.  Anemia Sedang

Anemia dikatakan sedang jika kandungan Hb berada pada kisaran       8-10 gram/dl. Pada tingkatan ini penderita biasanya mudah terinfeksi penyakit, stamina tubuh menurun dan detak jantung lebih cepat. Ciri paling umumnya adalah wajah, selaput lendir kelopak mata bagian bawah sebelah dalam, bibir, dan kuku tampak pucat atau tidak merah.

3.  Anemia Berat

Anemia diklasifikasikan berat apabila kadar Hb berada di bawah 7gram/dl. Pada keadaan ini fungsi sel sudah terganggu, penderita akan mengalami gangguan sesak nafas dan penderita harus memperoleh transfusi darah.

Seseorang yang menderita kurang darah disebut anemia. Darah terdiri dari dua bagian, bagian cair yang disebut plasma dan sel-sel bagian. Seluler bagian berisi berbagai jenis sel.

Salah satu yang paling penting dan paling banyak sel adalah jenis sel darah merah. Yang lain adalah jenis sel darah putih dan sel platelets. Tujuan dari sel darah merah adalah untuk memberikan oksigen paru-paru ke bagian lain dari tubuh.

 

2.2.2 Faktor Penyebab Anemia

Pengobatan sering memicu anemia. Beberapa obat penyebab anemia termasuk tetapi tidak terbatas pada sulfonamid, alkohol, penisilin, dan amfoterisin. Sering kali, menghentikan obat yang mengganggu dapat memulihkan anemia. Tetapi, apabila obat tersebut diperlukan untuk masalah lain, harus ditemukan cara lain untuk menghadapi anemia tersebut.

Penyebab umum dari anemia adalah sebagai berikut :

  1. Berkurangnya pembentukan sel darah merah yaitu kekuranga zat besi, vitamin B12, asam folat, vitamin C, dan penyakit kronik.

2.   Terjadinya penurunan kadar Hb yang disebabkan oleh adanya perdarahan, misalnya pada kecelakaan, menstruasi, pembedahan, persalinan, dan pecahnya pembuluh darah.

  1. Gangguan produksi sel darah  di sumsum tulang atau adanya kelainan di sumsum tulang sehingga tidak dapat memproduksi sel darah juga dapat menjadi penyebab kekurangan darah.
  2. Disebabkan faktor genetik yaitu adanya suatu antibodi tertentu di dalam tubuh yang menghancurkan sel darah merah sehingga terjadi anemia.

 

2.2.3 Anemia Sebagai Akibat Kekurangan Vitamin B12

Anemia karena kekurangan vitamin B12 dikenal dengan nama Anemia pernisiosa. Anemia Pernisiosa adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker.

Selain zat besi, sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. Jika kekurangan salah satu darinya, bisa terjadi anemia megaloblastik. Kekurangan vitamin B12 biasanya disebabkan karena kurang baiknya penyerapan dan kekurangan dalam makanan yang dikonsumsi.

Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia pernisiosa, suatu penyakit yang mungkin disebabkan oleh keturunan, yaitu karena faktor intrinsik tidak diproduksi oleh tubuh, dan akibatnya vitamin B12 tidak dapat diserap. Sumsum tulang tidak dapat memproduksi sel eritrosit yang normal, tetapi memproduksi dan memasukkan sel makrosit ke dalam saluran darah. Karena itu daya angkut hemoglobin menjadi sangat terbatas.

Akibatnya timbul anemia, pucat, gangguan perut, kurang berat, dan glositis. Biasanya kekurangan vitamin B12 terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin untuk anemia.

Selain mengurangi pembentukan sel darah merah, kekurangan     vitamin B12 juga mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan:
1.   Kesemutan ditangan dan kaki.

2.   Hilangnya rasa ditungkai kaki dan tangan.

3.   Pergerakan yang kaku.

4.   Lidah seperti terbakar.

5.   Penurunan berat badan.

6.   Warna kulit menjadi lebih gelap.

Pada contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop, tampak megaloblas, dapat dilihat perubahan sel darah putih dan trombosit, terutama jika penderita telah menderita anemia dalam jangka waktu yang lama. Jika diduga terjadi kekurangan, maka dilakukan pengukuran kadar vitamin B12 dalam darah. Jika sudah pasti terjadi kekurangan vitamin B12, bisa dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya.

Pemeriksaan darah lengkap adalah pemeriksaan yang dilakukan pada darah manusia dengan menghitung seluruh komponen pembentuk darah. Komponen pembentuk darah antara lain: sel darah merah, hematokrit, hemoglobin, sel darah putih, komponen sel darah putih dan trombosit/platelet. Terjadinya anemia dideteksi dengan menggunakan komponen sel darah merah, hematokrit dan hemoglobin.

Sel darah merah merupakan komponen darah yang terbanyak dalam satu mililiter darah. Setiap orang memiliki jutaan bahkan miliaran sel darah merah dalam tubuhnya.

Penghitungan sel darah merah digunakan untuk menentukan apakah kadar sel darah merah rendah (anemia) atau tinggi (polisitemia). Pada penghitungan sel darah merah, akan dinilai jumlah dan ukuran dari sel darah merah. Bentuk sel darah merah pun dilihat di bawah mikroskop. Informasi mengenai jumlah, ukuran dan bentuk sel darah merah akan digunakan untuk mendiagnosa jenis anemia yang diderita berikut kemungkinan penyebabnya.

Biasanya pemeriksaan dipusatkan kepada faktor intrinsik:

  1. Contoh darah diambil untuk memeriksa adanya antibodi terhadap faktor intrinsik. Biasanya antibodi ini ditemukan pada 60-90% penderita  anemia pernisiosa.
  2. Pemeriksaan yang lebih spesifik, yaitu analisa lambung.

Dengan cara dimasukkan sebuah selang kecil ( selang nasogastrik) melalui  hidung, melewati tenggorokan dan masuk ke dalam lambung. Lalu disuntikkan pentagastrin (hormon yang merangasang pelepasan faktor intrinsik) ke dalam sebuah vena.

Selanjutnya diambil contoh cairan lambung dan diperiksa untuk menemukan adanya faktor intrinsik.

Jika penyebabnya masih belum pasti, bisa dilakukan tes Schilling:

1.  Diberikan sejumlah kecil vitamin B12 radioaktif per-oral (ditelan) dan diukur penyerapannya.

2.  Kemudian diberikan faktor intrinsik dan vitamin B12, lalu penyerapannya diukur kembali. Jika vitamin B12 diserap dengan faktor intrinsik, tetapi tidak diserap tanpa faktor intrinsik, maka diagnosisnya pasti anemia pernisiosa.

Prinsip pengobatan anemia pernisiosa adalah untuk mencukupi kebutuhan vitamin B12 yang kurang dalam tubuh. Sedangkan tujuan pengobatannya adalah untuk menyembuhkan anemia yaitu melalui pemberian vitamin B12 agar mencegah timbulnya komplikasi, seperti kerusakan jantung atau syaraf dan mengobati penyakit dasarnya jika anemia pernisiosa disebabkan oleh penyakit tertentu.

Jika anemia pernisiosa disebabkan oleh infeksi usus, biasanya penderita akan diberi antibiotik. Jika ada gangguan di usus halus, mungkin dibutuhkan pembedahan. Tetapi, jika anemianya terjadi akibat kurang makan makanan bervitamin B12, maka pola makan harus diperbaiki dan penderita harus mengkonsumsi tambahan vitamin B12 sepanjang hidupnya.

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Vitamin B12 sangat diperlukan oleh tubuh manusia untuk membantu melancarkan proses kimia dalam tubuh. Suplay vitamin B12 dalam tubuh kita tetap harus diperdulikan dengan mengatur asupan vitamin B12 ke dalam tubuh kita.

                                    Saran

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya mencegah terjadinya anemia, diantaranya :

1.  Makanlah makanan dengan kandungan tinggi asam folat dan vitamin B12 seperti ikan, susu, daging, kacang polong, sayur berwarna hijau tua dan sereal.

2.   Makanlah makanan yang bergizi seimbang.

3.   Pada wanita hamil, sebaiknya diberikan suplemen asam folat

4.  Hindari paparan berlebihan terhadap bahan bakar (bensin), insektisida, zat kimia, dan zat toksik lainnya.

5.   Hindari konsumsi alkohol.

6.   Berhenti merokok.

Bila hal-hal tersebut di atas dilaksanakan, mudah-mudahan anemia dapat terhindar.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Estien Dan Lisda. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Analis. ANDI Yogyakarta.

 

Hans R. Larsen. Vitamin B12: [internet]. Available from: http://www.yourhealthbase.com.

http://www.listbot.com/ Kekurangan vitamin B12 hambat pertumbuhan.

 

http://ods.od.nih.gov/factsheets/Vitamin B12.asp.

 

http://www.wartamedika.com/2008/02/anemia-pernisiosa dan pengobatannya.html.

 

Kusnawidjaja, Kurnia. 1987. Biokimia. Penerbit Alumni Anggota IKAPI. Bandung. Hlm 179 – 180.

Nogradhy, Thomas 1992. Kimia Medisinal: Pendekatan Secara Biokimia. Penerbit ITB. Bandung . Hlm 492.

 

Winarno, F., G. 1992. Kimia Pangan Dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hlm 144 – 148.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s